keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, akhirnya menemukan titik terang setelah hasil
pemeriksaan laboratorium resmi diumumkan. Peristiwa ini sebelumnya menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah karena
banyak siswa mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Insiden tersebut terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, sesaat setelah para siswa menyantap makanan yang dibagikan di sekolah. Sejumlah
pelajar dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, dan gangguan pencernaan sehingga harus mendapatkan penanganan
medis di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Kudus.
Situasi sempat membuat pihak sekolah, tenaga kesehatan, hingga aparat setempat bergerak cepat melakukan evakuasi dan penanganan
darurat. Ratusan siswa yang terdampak harus dirawat di berbagai rumah sakit untuk memastikan kondisi mereka stabil dan tidak
mengalami komplikasi lanjutan.
Hasil Laboratorium Ungkap Penyebab Utama Siswa SMA 2 Kudus
Setelah menunggu beberapa hari, hasil uji laboratorium akhirnya memastikan penyebab keracunan berasal dari kontaminasi bakteri
Escherichia coli atau E. coli pada menu makanan yang disajikan. Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa bakteri tersebut
ditemukan dalam sampel makanan program MBG yang dikonsumsi para siswa.
Pemeriksaan mikrobiologi menunjukkan bahwa bagian makanan yang positif terkontaminasi adalah kuah soto dan sambal. Kedua
komponen menu tersebut terbukti mengandung bakteri E. coli sehingga diduga kuat menjadi sumber utama gangguan pencernaan
yang dialami siswa.
Secara umum, bakteri E. coli memang hidup di dalam usus manusia dan sebagian besar tidak berbahaya. Namun, jenis tertentu dapat
menghasilkan racun yang memicu diare berat dan keracunan makanan apabila masuk ke tubuh melalui makanan yang tercemar.
Dugaan Masalah Sanitasi dan Proses Pengolahan
Selain menemukan bakteri dalam makanan, investigasi juga menyoroti proses pengolahan dan distribusi menu MBG. Hasil penelusuran
menunjukkan bahwa dapur penyedia makanan diduga belum sepenuhnya memenuhi standar kelayakan, sanitasi, dan higienitas
pangan yang telah ditetapkan.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena standar kebersihan dapur merupakan faktor penting dalam mencegah kontaminasi
bakteri pada makanan. Evaluasi dilakukan untuk menelusuri kemungkinan sumber pencemaran, mulai dari bahan baku, air, peralatan masak,
hingga proses penyimpanan dan distribusi makanan ke sekolah.
Akibat kejadian ini, unit penyedia makanan terkait juga dihentikan sementara operasionalnya sambil menunggu hasil evaluasi lanjutan
dari pihak berwenang. Langkah tersebut diambil untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Upaya Evaluasi dan Perbaikan Program MBG
Pemerintah melalui BGN menegaskan bahwa kasus keracunan ini akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan
program MBG di berbagai daerah. Pengawasan terhadap standar operasional prosedur, kebersihan dapur, serta kualitas penyedia
makanan akan diperketat agar keamanan pangan lebih terjamin.
Pendampingan teknis dan peningkatan pengawasan juga akan dilakukan untuk memastikan setiap mitra penyedia makanan menjalankan
proses produksi sesuai standar kesehatan. Langkah tersebut bertujuan agar program pemenuhan gizi bagi pelajar tetap berjalan dengan aman
dan memberikan manfaat optimal tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
Kasus di SMA 2 Kudus menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan makanan dalam skala besar memerlukan disiplin tinggi terhadap
sanitasi dan keamanan pangan. Dengan evaluasi menyeluruh serta perbaikan sistem pengawasan, diharapkan insiden keracunan massal
seperti ini tidak kembali terjadi dan kepercayaan masyarakat Tuna55 terhadap program gizi bagi siswa dapat dipulihkan.