Kasus Jeffrey Epstein kembali mengguncang Amerika Serikat dan dunia internasional setelah ratusan ribu halaman dokumen rahasia yang selama bertahun-tahun tersimpan akhirnya dipublikasikan. Rilis besar-besaran ini bukan sekadar membuka ulang luka lama, tetapi juga menyeret kembali nama-nama tokoh berpengaruh, termasuk Presiden Amerika Serikat dua periode, Donald Trump, yang disebut lebih dari 5.300 kali dalam dokumen tersebut.
Publikasi dokumen ini menandai salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah transparansi hukum Amerika. Alih-alih meredakan spekulasi, pembukaan berkas justru memunculkan gelombang pertanyaan baru: siapa saja yang sebenarnya mengetahui, terlibat, atau menutup mata terhadap jaringan kejahatan seksual Epstein?
Sosok Jeffrey Epstein: Dari Anak Brooklyn hingga Miliarder Misterius
Jeffrey Edward Epstein lahir pada 20 Januari 1953 di Brooklyn, New York, dari keluarga Yahudi kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai taman kota, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Sejak kecil, Epstein dikenal sebagai anak dengan kecerdasan di atas rata-rata, khususnya dalam bidang matematika dan sains.
Ia tumbuh di lingkungan Sea Gate, kawasan pesisir di Coney Island, dan menempuh pendidikan di Lafayette High School. Meski berasal dari latar belakang sederhana, Epstein menonjol secara akademik hingga mampu melompati dua tingkat kelas. Namun, perjalanan pendidikannya di perguruan tinggi tidak pernah benar-benar rampung. Ia sempat belajar di Cooper Union dan kemudian di New York University, tetapi tidak pernah meraih gelar sarjana.
Ironisnya, kegagalan akademik ini tidak menghalangi Epstein menembus dunia elite keuangan Amerika.
Awal Karier yang Tidak Lazim dan Jalan Menuju Wall Street
Pada pertengahan 1970-an, Epstein secara mengejutkan diterima sebagai guru fisika dan matematika di Dalton School, sekolah elit Manhattan yang menjadi tempat belajar anak-anak keluarga superkaya Amerika. Keberadaannya di sana terbilang anomali, mengingat Tuna55 tidak memiliki kredensial akademik formal yang kuat.
Meski begitu, Epstein dikenal karismatik di mata murid-muridnya. Laporan media kemudian menyebutkan bahwa ia sering melanggar batas etika guru-siswa, termasuk menghadiri pesta murid. Kariernya di Dalton berakhir setelah evaluasi internal menyatakan kemampuan mengajarnya tidak memadai.
Namun, dari kegagalan inilah pintu menuju dunia finansial terbuka. Seorang wali murid memperkenalkan Epstein kepada Alan Greenberg, CEO Bear Stearns. Tak lama berselang, Epstein pun masuk ke Wall Street—sebuah titik balik yang mengubah hidupnya secara drastis.
Dari Pialang ke Pengelola Kekayaan Para Elite
Karier Epstein di Bear Stearns terbilang cepat menanjak, meski diwarnai kontroversi. Ia diketahui memalsukan latar belakang pendidikannya dan sempat diselidiki atas dugaan pelanggaran etika serta regulasi keuangan. Pada awal 1980-an, Epstein akhirnya meninggalkan perusahaan tersebut.
Anehnya, setelah keluar dari Bear Stearns, kekayaan Epstein justru melonjak. Ia membangun reputasi sebagai pengelola dana pribadi bagi individu ultra-kaya. Pada 1988, ia mendirikan J. Epstein & Company, firma yang secara eksklusif melayani klien dengan kekayaan di atas satu miliar dolar AS.
Klien terbesarnya adalah Leslie Wexner, miliarder ritel pemilik Victoria’s Secret dan sejumlah merek besar lainnya. Hubungan ini menjadikan Epstein bukan sekadar manajer keuangan, tetapi juga figur kunci dalam pengelolaan aset raksasa.
Kekayaan, Properti Mewah, dan Pulau Pribadi
Seiring bertambahnya kekayaan, Epstein membangun gaya hidup yang mencerminkan kekuasaan dan eksklusivitas. Ia memiliki rumah megah di Manhattan, properti di Palm Beach, New Mexico, Paris, serta dua pulau pribadi di Kepulauan Virgin AS: Little St. James dan Great St. James.
Pulau-pulau inilah yang kelak menjadi simbol kelam jaringan kejahatan seksual Epstein. Kesaksian korban dan bukti foto mengungkap keberadaan kamera tersembunyi di beberapa properti, memicu spekulasi tentang praktik pemerasan dan pengumpulan kompromat terhadap tokoh-tokoh berpengaruh.
Lingkaran Sosial: Dari Selebritas hingga Presiden
Epstein tidak sekadar kaya—ia memiliki akses luar biasa ke pusat kekuasaan global. Ia bergaul dengan selebritas seperti Michael Jackson, tokoh teknologi seperti Bill Gates, akademisi ternama seperti Alan Dershowitz, Larry Summers, dan Noam Chomsky.
Hubungannya dengan kalangan politik bahkan lebih sensitif. Epstein tercatat memiliki kedekatan dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, serta Donald Trump.
Dalam wawancara tahun 2002, Trump secara terbuka menyebut Epstein sebagai sosok menyenangkan yang menyukai perempuan muda—sebuah pernyataan yang kini terus dikutip ulang dan diperdebatkan.
Retaknya Hubungan Epstein dan Trump
Meski pernah dekat, hubungan Epstein dan Trump tidak bertahan lama. Perselisihan dilaporkan muncul akibat perebutan properti di Palm Beach serta insiden perekrutan Virginia Giuffre, yang saat itu masih di bawah umur, dari Mar-a-Lago.
Trump kemudian mengklaim telah melarang Epstein memasuki area propertinya. Pernyataan ini menjadi bagian penting dari pembelaan Trump ketika namanya kembali mencuat dalam dokumen-dokumen Epstein yang dirilis.
Terungkapnya Kejahatan Seksual dan Kesepakatan Kontroversial
Kasus pidana Epstein mulai terkuak pada 2005, ketika laporan pelecehan terhadap anak di Palm Beach masuk ke kepolisian. Investigasi federal menemukan puluhan korban, sebagian besar gadis di bawah umur.
Namun pada 2008, Epstein hanya dijatuhi hukuman ringan setelah mencapai kesepakatan dengan jaksa federal, Alexander Acosta. Kesepakatan ini menuai kritik luas karena dianggap melindungi Epstein dari tuntutan federal yang lebih berat.
Penangkapan Kedua dan Kematian Misterius
Tekanan publik meningkat tajam setelah liputan investigatif Miami Herald pada 2018 mengungkap puluhan korban baru. Epstein akhirnya kembali ditangkap pada Juli 2019 atas tuduhan perdagangan seks federal.
Namun, dunia dikejutkan ketika Epstein ditemukan tewas di sel penjara Manhattan pada 10 Agustus 2019. Meski dinyatakan bunuh diri, kegagalan prosedur keamanan memicu teori konspirasi luas yang hingga kini belum sepenuhnya mereda.
Berkas Epstein dan Tarik Ulur Politik
Isu “berkas Epstein” menjadi senjata politik menjelang Pemilu AS 2024. Trump sempat menyatakan akan membuka dokumen tersebut, namun menunjukkan keraguan dengan alasan melindungi pihak-pihak yang tidak bersalah.
Tokoh-tokoh Republik seperti Dan Bongino secara terbuka mendukung pembukaan berkas, menyebutnya sebagai bukti keberadaan “kelas elite kebal hukum”.
Undang-Undang Transparansi dan Rilis Dokumen Besar-Besaran
Tekanan publik akhirnya menghasilkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein. Tokoh Kongres seperti Thomas Massie mendorong pelepasan penuh dokumen.
Pada Desember 2025, ratusan ribu halaman dirilis. Namun, banyak dokumen disunting berat, memicu kritik bahwa transparansi tersebut setengah hati. Todd Blanche mengakui proses peninjauan masih berlangsung.
Email, Nama Trump, dan Kontroversi Baru
Rilis lanjutan mencakup email yang menyebut Trump melakukan perjalanan dengan pesawat Epstein lebih sering dari yang diketahui publik. Departemen Kehakiman menegaskan bahwa sebagian dokumen berisi klaim yang belum diverifikasi.
Fakta bahwa nama Trump muncul ribuan kali tidak otomatis berarti keterlibatan kriminal, tetapi cukup untuk mempertahankan kontroversi di ruang publik dan media.
Teori Konspirasi dan Kesimpulan Resmi
Kematian Epstein terus memicu teori konspirasi, terutama di kalangan pendukung garis keras MAGA. Namun, laporan Kantor Inspektur Jenderal Departemen Kehakiman pada 2023 menyimpulkan tidak ada bukti pembunuhan.
Meski demikian, kasus Epstein telah menjadi simbol kegagalan sistem hukum dalam menghadapi kejahatan oleh individu berkuasa.
Rilis berkas Epstein bukan akhir cerita, melainkan bab baru dari skandal yang menyingkap relasi berbahaya antara kekuasaan, uang, dan impunitas. Nama-nama besar boleh menyangkal, dokumen boleh disunting, tetapi satu hal tak terbantahkan: ratusan, bahkan ribuan korban menuntut keadilan yang selama puluhan tahun tertunda. https://heylink.me/tuna55.official/