Media Inggris menaruh perhatian pada keputusan tegas yang dijatuhkan terhadap dua pemain Liga 4 Indonesia. Hukuman larangan beraktivitas seumur hidup yang diberikan oleh panitia disiplin di bawah naungan PSSI dinilai tidak lazim dan menuai sorotan internasional.
Sorotan tersebut datang dari media olahraga Inggris Sport Bible, yang mengulas insiden tekel keras dalam pertandingan Liga 4 hingga berujung pada sanksi terberat dalam dunia sepak bola.
Media Inggris: Miris Sepakbola Indonesia
“Dua pesepak bola dijatuhi larangan bermain seumur hidup setelah melakukan tekel brutal terhadap lawan,” tulis Sport Bible. Media tersebut menyoroti perbedaan penanganan disiplin, di mana pelanggaran serupa di banyak negara biasanya hanya berujung kartu merah atau larangan bermain beberapa pertandingan.
Kasus pertama melibatkan Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain Putra Jaya Pasuruan, yang melakukan tekel berbahaya dengan menendang dada pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha Ardhiansyah. Insiden itu terjadi pada laga babak 32 besar Grup CC Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026, Senin (5/1).
Aksi Hilmi menjadi viral di media sosial lantaran menyebabkan Firman Nugraha terjatuh dan harus ditandu keluar lapangan. Korban bahkan dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans untuk mendapatkan perawatan medis.
Menanggapi insiden tersebut, Komite Disiplin PSSI Asprov Jawa Timur bergerak cepat. Pada Selasa (6/1/2026), Hilmi dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di seluruh lingkungan sepak bola di bawah PSSI.
Sehari berselang, keputusan serupa dikeluarkan oleh Panitia Disiplin PSSI Asosiasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hukuman seumur hidup dijatuhkan kepada Dwi Pilihanto, pemain KAFI FC, setelah melakukan pelanggaran keras berupa tendangan ke wajah pemain UAD FC dalam laga Liga 4 DIY pada Selasa (6/1).
Dua kasus tersebut menjadi perhatian publik Tuna55 internasional karena kerasnya sanksi yang diberikan. Media asing menilai langkah ini sebagai bentuk penegakan disiplin ekstrem yang jarang diterapkan, namun sekaligus menunjukkan sikap tegas otoritas sepak bola Indonesia terhadap kekerasan di lapangan.