Tahun 2025 menjadi titik balik penting bagi pergerakan saham-saham BUMN yang berada di bawah holding Danantara. Arah pasar tidak lagi bergerak seragam. Investor mulai mengambil jalur berbeda, menyesuaikan strategi dengan dinamika ekonomi global dan domestik.
Data perdagangan sepanjang 2026 memperlihatkan satu kesimpulan utama: pasar sedang mengalami rotasi besar. Aliran modal bergeser dari sektor finansial ke sektor riil, dari perbankan menuju komoditas dan industri dasar. Pergeseran ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan mencerminkan perubahan cara investor membaca risiko dan peluang di tengah ketidakpastian global.
Komoditas Jadi Bintang Baru Danantara
Sektor industri dasar dan pertambangan tampil sebagai primadona sepanjang 2026. Saham-saham di sektor ini mencatatkan kenaikan harga paling agresif dibanding sektor lainnya.
Performa paling mencolok datang dari PT Krakatau Steel Tbk. Saham KRAS melesat lebih dari 220 persen sepanjang tahun. Lonjakan ini ditopang oleh keberhasilan restrukturisasi keuangan serta meningkatnya permintaan baja domestik, terutama dari proyek-proyek infrastruktur nasional. Pasar merespons positif perbaikan neraca perusahaan dan prospek usaha yang dinilai semakin sehat.
Di sektor pertambangan, PT Timah Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk juga menunjukkan kinerja solid. Keduanya terdorong oleh penguatan harga komoditas global, ditambah kebijakan hilirisasi mineral yang meningkatkan nilai tambah produk. Margin usaha membaik, dan sektor ini dinilai lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global.
Transportasi dan Telekomunikasi Ikut Menguat
Tidak hanya komoditas yang bersinar. Sejumlah sektor lain juga mulai menunjukkan pemulihan signifikan.
Saham PT Garuda Indonesia Tbk melonjak lebih dari 80 persen. Kenaikan ini mencerminkan pulihnya kepercayaan pasar terhadap kinerja operasional maskapai nasional tersebut setelah melewati periode sulit.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk mencatatkan kenaikan hampir 30 persen. Telkom kembali diposisikan sebagai saham defensif, relatif stabil di tengah volatilitas pasar.
Bank Besar Justru Ditinggalkan
Berbanding terbalik dengan sektor riil, saham perbankan BUMN justru mengalami tekanan sepanjang 2025. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk masing-masing terkoreksi lebih dari 12 persen. PT Bank Negara Indonesia Tbk juga mengalami pelemahan serupa.
Investor mulai mengantisipasi perlambatan penyaluran kredit. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta potensi meningkatnya kredit bermasalah menjadi perhatian utama. Tekanan eksternal turut memperberat, seiring kebijakan suku bunga tinggi di negara maju yang memicu arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Konstruksi Masih Bergulat
Sektor konstruksi BUMN juga belum sepenuhnya keluar dari fase sulit. Saham PT Wijaya Karya Tbk dan PT Jasa Marga Tbk tercatat turun lebih dari 20 persen sepanjang tahun.
Pasar masih bersikap hati-hati terhadap sektor ini. Tingginya beban utang serta siklus pembayaran proyek yang panjang menjadi faktor utama yang menahan minat investor.
Sinyal Penting bagi Investor Muda
Pergerakan pasar sepanjang 2025 memberikan pelajaran penting: strategi investasi tidak bisa bersifat stagnan. Saat siklus kredit melambat, sektor finansial cenderung tertekan. Sebaliknya, ketika harga komoditas global Tuna55 menguat, sektor riil mengambil alih panggung utama.
Pasar bergerak mengikuti dinamika makroekonomi, bukan semata-mata nama besar. Bagi investor, termasuk generasi muda, kemampuan membaca konteks menjadi kunci utama. Diversifikasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Pasar 2025 mengirimkan pesan tegas: yang adaptif akan bertahan, sementara yang kaku berisiko tertinggal.